Blog
Sentilan Menohok Pj Gubernur Elisa Kambu Soal Eksploitasi SDA Papua oleh Elit Jakarta
07 Sep 2026 · Penulis PPMA
Sorong, Papua Barat Daya – Di balik megahnya ruang pertemuan dan riuh rendah tepuk tangan para delegasi global yang membahana, sebuah kejujuran yang menghentak lahir dari bibir seorang Pemimpin Daerah.
Kritik menohok disampaikan Penjabat Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, di hadapan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, serta ribuan pasang mata delegasi dunia dalam ajang Papeda Summit 2026 di Gedung L Jitmau, Kota Sorong, Rabu (2/9/2026). Dengan nada suara yang bergetar namun tegas, Elisa menyuarakan keprihatinannya atas terus tergerusnya hutan dan kekayaan alam Papua. Sesuatu yang selama ini menjadi napas kehidupan masyarakat adat, orang-orang pribumi, rakyat-rakyat kecil di dusun-dusun kini justru dikuasai oleh kelompok elit, jenderal, dan para konglomerat dari luar daerah.
“Kami tinggal di Papua ini tapi hutan sudah habis. Orang Jakarta punya hutan semua ini, jenderal punya hutan, konglomerat punya hutan. Jadi kita cuma numpang saja,” ujar Elisa, sebuah kalimat sarkas yang seketika membuat suasana ruang sidang utama mendadak riuh dan hening secara bergantian. Ia menyentil realitas getir di mana masyarakat asli Papua seolah-olah hanya menjadi "tamu" atau "mengontrak" di atas tanah leluhur mereka sendiri.
Melalui forum tersebut, Elisa mendesak Pemerintah Pusat untuk segera mempercepat pengakuan dan penetapan Hutan Adat. Langkah hukum ini dinilai sangat krusial sebagai perisai terakhir untuk memproteksi hak-hak masyarakat adat Papua dari ekspansi tambang raksasa serta alih fungsi lahan ilegal.
Geliat UMKM dan Harapan dari Balik Dapur Mama-Mama Papua
Di luar ketatnya protokoler dan panasnya podium ruang sidang, atmosfer Papeda Summit 2026 sebenarnya membawa angin segar yang humanis bagi warga Kota Sorong. Acara yang mempertemukan lebih dari 1.030 peserta dari 6 provinsi ini tidak hanya menjadi panggung diplomasi lingkungan, melainkan juga pesta rakyat skala kecil.
Ketua Panitia, Julian Kelly Kambu, mengungkapkan bahwa kolaborasi erat bersama puluhan mitra pembangunan ini sengaja dirancang agar memberi dampak ekonomi langsung di tingkat tapak. Sejak hari pertama, sudut-sudut luar gedung dipenuhi oleh stan UMKM lokal. Aroma sagu bakar dan noken-noken rajutan warna-warni karya Mama-Mama Papua menghiasi area luar, menjadi buruan para delegasi dari berbagai daerah. Warung makan lokal, sopir angkutan, hingga toko oleh-oleh khas Sorong kecipratan berkah ekonomi dari keramaian ini.
Bagi masyarakat lokal yang berjualan di sekitar area, pesan keras yang disampaikan oleh sang Gubernur di dalam gedung adalah doa yang mereka bisikkan setiap hari. Mereka berharap, hasil dari summit ini bukan sekadar lembaran komitmen di atas kertas atau sesi foto bersama, melainkan jaminan nyata bahwa anak-cucu mereka kelak masih bisa melihat hutan Papua yang hijau dan utuh. (Jahya Lourentz)