Beranda › Blog

Blog

Berita & Informasi

Rosita Tecuari Jadi Kepala Kampung Benyom

02 Nov 2026 · Penulis PPMA

Rosita Tecuari Jadi Kepala Kampung Benyom

JAYAPURA — Perjalanan panjang seorang aktivis perempuan adat Papua, Rosita Tecuari, S.Pd., menapaki babak baru. Setelah lama dikenal sebagai pejuang hak-hak masyarakat adat dan Ketua Organisasi Perempuan Adat (ORPA) Suku Namblong, Rosita kini resmi mengemban amanah baru sebagai Kepala Kampung Benyom Distrik Nimboran. Ia dilantik bersama 13 kepala kampung lainnya se-Dsitrik di wilayah Grime Nawa oleh Bupati Jayapura, Dr. Yunus Wonda.

Meski sempat menghadapi dinamika dan tantangan dalam kontestasi demokrasi tingkat kampung—mulai dari penolakan hingga permintaan pemilihan ulang oleh pihak tertentu—Rosita berhasil meraih kemenangan mutlak yang disaksikan langsung oleh unsur pemerintah distrik, Polsek, Koramil, serta perwakilan masyarakat. Bagi Rosita, dinamika dalam pesta demokrasi adalah hal yang lumrah, namun fokus utamanya kini adalah merangkul seluruh masyarakat untuk membangun kampung halaman.

Visi Strategis: Menyelaraskan Administrasi Kampung dan Hak Ulayat

Sebagai pemimpin perempuan pertama di kampung induk yang besar tersebut, Rosita membawa visi besar: mewujudkan Kampung Benyom yang cerah, maju, berwibawa, bermoral, serta memiliki ilmu pengetahuan. Untuk mewujudkannya, langkah awal yang ia tempuh bukan sekadar menjalankan roda administratif biasa, melainkan membenahi fondasi tata kelola berbasis kearifan lokal.

Rosita berkomitmen untuk: Menyusun Aturan dan Profil Kampung: Bekerja sama dengan aparat kampung, Bamuskam, dan para pemimpin adat untuk merumuskan aturan kampung yang bersinergi langsung dengan hukum adat, Menghormati Batas Wilayah Adat: Sebagai kepala kampung, ia membatasi diri untuk fokus pada wilayah administrasi pemerintahan, sementara urusan hak ulayat tetap dipegang oleh para tua-tua adat dan pemilik hak ulayat guna menghindari konflik atau klaim sepihak, Pemetaan Wilayah dan Potensi Adat: Mendorong pemetaan wilayah adat partisipatif yang mencakup empat marga di Kampung Benyom untuk mendapatkan legalitas berupa SK Bupati, yang dilanjutkan dengan pemetaan potensi ekonomi.

Memikul "Garuda" dan Merajut Kolaborasi

Menanggapi perannya yang kini turut "memikul lambang Garuda" di pundak pemerintahan resmi, Rosita memaknainya secara filosofis mendalam. Mengambil analogi burung legendaris dari Lembah Grime atau Papua, ia menegaskan bahwa jabatan dan kekuasaan bukan digunakan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk melindungi dan membantu mereka yang membutuhkan, seperti anak yatim piatu, janda, dan duda.

Ia juga berpesan kepada sesama aktivis perempuan adat agar tidak merasa ditinggalkan. Menurutnya, memperjuangkan hak masyarakat adat dapat dilakukan dari berbagai lini, termasuk dari dalam sistem pemerintahan.

Penguatan Ekonomi Berbasis Lokal

Untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat, kepemimpinan Rosita akan berfokus pada tiga sektor unggulan di Kampung Benyom, yaitu:  Perkebunan: Pengembangan komoditas unggulan seperti perkebunan kakao, Peternakan: Mengoptimalkan potensi lokal yang ada di tengah masyarakat, Pariwisata: Mengembangkan wisata berbasis lingkungan dan budaya, seperti patrol hutan, sekolah budaya perempuan, serta rencana ekowisata hutan sagu bekerja sama dengan instansi terkait, Pemberdayaan Perempuan: Menghidupkan kembali keterampilan tradisional seperti menganyam noken serta produksi pengolahan tepung sagu.

Dengan pendekatan yang inklusif, kolaboratif bersama NGO, gereja, dan lembaga adat, Rosita Tecuari optimis dapat menjadikan Kampung Benyom sebagai model pembangunan kampung yang maju tanpa meninggalkan akar budaya adatnya. (Jahya Lourentz)

Tertarik Bermitra dengan PPMA Papua?

Kami terbuka untuk kolaborasi dengan lembaga, pemerintah, dan sektor swasta yang memiliki komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat adat Papua.