Blog
Pra Konferensi Dewan Adat Mamta-Tabi Matangkan Persiapan Konferensi Akbar Oktober 2026
16 Sep 2026 · Penulis PPMA
Pra konferensi Dewan Adat Wilayah Mamta-Tabi sukses digelar di Gedung Sophie, Padang Bulan, Kota Jayapura, pada Selasa (15/9/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal yang penting untuk mematangkan agenda menuju Konferensi III Masyarakat Adat dan Konferensi I Pemuda Wilayah Mamta-Tabi.
Acara puncak rencananya akan berlangsung pada 7–9 Oktober 2026 di Suni Hotel Sentani, Kabupaten Jayapura. Mengusung tema besar "Selamatkan Manusia, Hutan & Sumberdaya Papua" dengan sorotan semangat "Bangkit, bersatu, dan selamatkan tanah leluhur Mamta-Tabi", forum ini bertujuan menyatukan visi demi masa depan masyarakat adat Papua.
Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Adat Papua (DAP), Yohanis L. Rosumbre, menyatakan bahwa pra konferensi ini memegang posisi strategis. Ruang ini dipakai untuk menyiapkan materi, agenda, dan rekomendasi konkret sebelum dibawa ke forum utama.
Ia menegaskan agar konferensi nanti tidak hanya berhenti sebagai acara seremonial. Kegiatan ini harus menjadi momentum memperkuat konsolidasi kepemimpinan masyarakat adat dari tingkat wilayah, daerah, hingga suku.
Ketua Dewan Adat Mamta-Tabi, Yakonias Wabrar, menambahkan bahwa konsolidasi terus berjalan untuk memperkuat kesiapan organisasi. Menurutnya, Dewan Adat memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi tanah, hutan, dan kearifan lokal turun-temurun.
Jika hutan rusak dan tanah adat kehilangan fungsinya, yang terancam bukan sekadar kekayaan alam, melainkan identitas serta kebudayaan generasi masa depan Papua.
Ketua Panitia Yulianus Dwa, SKM, menjelaskan bahwa agenda besar ini terselenggara berkat kolaborasi antara pemuda, Dewan Adat Papua, dan Dewan Adat Mamta-Tabi. Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Jayapura yang siap menjadi tuan rumah yang baik.
Konferensi akbar ini nantinya akan melibatkan perwakilan dari tiap Dewan Adat Daerah (DAD), delegasi wilayah, utusan lima provinsi di Tanah Papua. Yulianus juga menegaskan bahwa pemuda diposisikan bukan sekadar pelengkap, melainkan generasi penerus yang memegang kendali masa depan ruang hidup masyarakat adat, artinya dirinya berharap, pemuda dapat hadir mengikuti tahapan Konferensi yang akan di gelar. Tetua adat adalah tempat anak muda belajar untuk mewarisi nilai jati diri dalam raung sosial dan budaya yang luas dan semakin majemuk, sebab itu ada harapan, melalui forum ini kaum mudah Mamta Tabi dapat belajar banyak hal. Tak bisa satupun manusia terhindar dari putar waktu sebab yang tua akan jadi pemikir dan penasehat yang kemudian terdahulu dan yang muda akan terus melangkah untuk mewujudkan eksistensi Mamta Tabi, negeri matahari terbit. (Jahya Lourentz)