Beranda › Blog

Blog

Masyarakat Adat

Pemetaan Ruang Hidup dan Harapan Baru di Kampung Beneik

14 Jul 2026 · Penulis PPMA

Pemetaan Ruang Hidup dan Harapan Baru di Kampung Beneik

Di balik rimbunnya hutan Papua, di antara aliran sungai yang tenang dan kabut pagi yang bergelayut di perbukitan, terhampar sebuah kampung bernama Beneik. Kampung ini, seperti banyak kampung adat lainnya di Tanah Papua, menyimpan cerita panjang tentang perjuangan mempertahankan ruang hidup dan tradisi yang kian tergerus oleh zaman. 

Pada Oktober 2024, sekelompok orang dari berbagai latar belakang berkumpul di Beneik. Mereka bukan hanya tamu, tetapi bagian dari upaya besar untuk memetakan kembali ruang kelola masyarakat adat. Pt.PPMA Papua, bersama WWF Indonesia Program Tanah Papua dan beberapa organisasi lainnya, memfasilitasi kegiatan ini sebagai bagian dari program Voices for Just Climate Action (VCA), sebuah inisiatif yang menyuarakan keadilan iklim bagi kelompok-kelompok rentan,
termasuk masyarakat adat.

Saat malam turun di Kampung Beneik, tim pendamping dari Pt.PPMA Papua duduk bersila di rumah Bernat Guakan, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) setempat. Lilin-lilin kecil menerangi ruangan, bayangannya menari di dinding kayu. Diskusi berlangsung hangat, membahas tentang rencana pemetaan wilayah adat yang telah lama didambakan oleh masyarakat. “Ini bukan sekadar menggambar peta,” ujar Bernat dengan nada penuh keyakinan. “Ini tentang masa depan anak cucu kami, tentang memastikan bahwa mereka masih bisa berburu, berkebun, dan menjaga tanah ini seperti yang dilakukan leluhur kami.” Dengan secangkir kopi panas di tangan, tim menyusun strategi. Tiga hari ke depan akan menjadi momen krusial bagi masyarakat Beneik.

Pagi pertama kegiatan, matahari baru saja muncul ketika warga mulai berdatangan ke Balai Kampung. Beberapa membawa buku catatan, yang lain hanya bermodalkan ingatan yang terpatri dalam cerita turun-temurun. Dengan dipandu oleh Fourly Latul, seorang tenaga ahli spasial, masyarakat diajak untuk menandai wilayah mereka di atas peta. Sebatang kayu digunakan untuk menggambar di tanah, sebelum dipindahkan ke lembaran peta besar yang telah disiapkan. Mereka menunjuk daerah yang mereka kenal: “Ini tempat berburu babi, di sini sungai yang sering digunakan untuk menangkap ikan. Di sebelah sana, hutan sagu
yang selalu kami jaga.”

Di sela-sela pemetaan, cerita tentang kampung tua Bengkareng, Nimbontong, dan Jik kembali mengemuka. “Dulu nenek moyang kami tinggal di sini, sebelum pemerintah menetapkan batas administrasi kampung baru. Tapi hati kami tetap di tanah itu,” ucap seorang tetua adat dengan suara bergetar. Namun, tak semua berjalan mulus. Beberapa tokoh kunci dari Kampung Jik tidak hadir, membuat proses pengisian data menjadi terhambat. Tim harus melakukan pendekatan personal, memastikan bahwa setiap suara didengar, setiap batas wilayah diakui. 

Selain pemetaan ruang kelola, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya solusi adaptasi iklim berbasis lokal. Masyarakat Beneik mulai mempertimbangkan ekowisata sebagai sumber penghidupan baru. “Kami punya burung cenderawasih, punya hutan yang masih lestari. Jika dikelola dengan baik, ini bisa menjadi harapan bagi kami,” kata Natalius Yambe, seorang pemuda setempat. Hasil pemetaan ini nantinya akan didaftarkan ke Gugus Tugas Masyarakat Adat (GTMA) Kabupaten Jayapura. Namun, masih ada pekerjaan rumah besar: penyusunan dokumen perencanaan kampung yang mengintegrasikan isu perubahan iklim. “Ini baru permulaan,” kata Naomi Marasian, Direktur Eksekutif Pt.PPMA Papua. “Kami harus memastikan bahwa apa yang telah dilakukan ini benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat Beneik.”

Saat malam terakhir tiba, di bawah cahaya bulan yang menggantung di langit Papua, ada secercah harapan di mata masyarakat Kampung Beneik. Mereka tak hanya berhasil memetakan wilayah mereka, tetapi juga telah menandai masa depan yang ingin mereka perjuangkan.* (Sumber: Buletin Kontak Kawan Edisi 34 Tahun 2025)

Tertarik Bermitra dengan PPMA Papua?

Kami terbuka untuk kolaborasi dengan lembaga, pemerintah, dan sektor swasta yang memiliki komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat adat Papua.