Beranda › Blog

Blog

Berita & Informasi

Mengulang Sejarah 2002, Konferensi III Masyarakat Adat dan Pemuda I Tabi Siap Digelar di Kabupaten Jayapura

17 Sep 2026 · Penulis PPMA

Mengulang Sejarah 2002, Konferensi III Masyarakat Adat dan Pemuda I Tabi Siap Digelar di Kabupaten Jayapura

JAYAPURA – Panitia Pelaksana Konferensi III Masyarakat Adat dan Pemuda I Wilayah Mamta-Tabi menyatakan kesiapan total menjelang puncak acara yang dijadwalkan berlangsung pada 7–10 Oktober mendatang. Kabupaten Jayapura secara resmi telah menyatakan kesiapannya untuk bertindak sebagai tuan rumah dalam agenda bersejarah ini.

Hal tersebut ditegaskan Ketua Panitia Pelaksana, Yulianus Dwaa, SKM, saat memberikan keterangan pers terkait perkembangan persiapan momen adat tersebut di Pra Konferensi yang di gelar di Gedung Sophie P3W Padang Bulan Abepura, 15 September 2026.

"Kami menerima mandat langsung dari Dewan Adat Papua (DAP) untuk menyelenggarakan Konferensi Ketiga Masyarakat Adat Mamta Tabi sekaligus Konferensi Pertama Pemuda Adat Mamta Tabi. Secara jujur, ini adalah beban yang saya rasa berat. Namun, kami bersyukur karena adanya kolaborasi yang luar biasa kuat antara pemuda, pimpinan DAP, serta pimpinan Dewan Adat Mamta," ungkap Yulianus Dwaa.

Yulianus menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian luar biasa dari Pemerintah Kabupaten Jayapura. Ia mengutip pesan mendalam dari pimpinan daerah yang menegaskan kedudukan  lembaga adat penting dalam tatanan bernegara.

"Beliau berpesan bahwa sebelum ada negara, adat sudah ada terlebih dahulu. Setelah adat, barulah agama hadir, dan kemudian negara mendapatkan ruangnya hingga hari ini. Artinya, pemerintah berkewajiban penuh mendukung dan membantu eksistensi adat di wilayahnya. Kehadiran Asisten I dalam pertemuan hari ini menjadi bukti nyata keseriusan Kabupaten Jayapura menyambut peluncuran agenda ini," jelasnya.

Selain Kabupaten Jayapura, dukungan resmi juga telah mengalir dari Bupati Keerom, sementara koordinasi intensif terus dibangun bersama Pemerintah Kota Jayapura dan daerah lainnya di wilayah Mamta-Tabi.

Momen yang akan berlangsung pada 7–10 Oktober nanti dinilai memiliki nilai historis dan spiritual yang sangat tinggi. Lokasi pelaksanaan konferensi merupakan tempat bersejarah di mana para tokoh Papua pernah berkumpul dan merumuskan masa depan pada tahun 2002 silam.

"Ini bukan kebetulan. Kami akan mengulangi sejarah itu. Anak-anak Tabi akan menatap masa depan Papua dari negeri tempat para leluhur dan orang tua kami pernah duduk bersama pada tahun 2002 untuk bicara tentang masa depan di hotel yang sama. Kami berterima kasih karena Tuhan menggerakkan hati pimpinan daerah Kabupaten Jayapura untuk memfasilitasi tempat dan tenaga, sehingga kami tinggal datang dan masuk saja," tambah Yulianus.

Panitia saat ini tengah membangun koordinasi intensif agar Menteri Hukum dan HAM dapat hadir bertindak sebagai keynote speaker. Kehadiran beliau direncanakan akan disandingkan dengan Gubernur Papua serta Gubernur Papua Tengah (selaku Ketua Asosiasi Gubernur) guna membedah persoalan Papua secara komprehensif dari wilayah Tabi.

Sejumlah isu krusial yang akan didiskusikan guna menghasilkan solusi konkret bagi negara antara lain:

  • Undang-Undang Pemilu yang akan segera disahkan.
  • Kondisi fiskal daerah yang saat ini sedang mengalami masa-masa berat bagi para Kepala Daerah dalam mewujudkan visi-misinya.

Konferensi ini ditargetkan akan dihadiri oleh sekitar 350 peserta inti dari unsur adat dan pemuda. Namun, pada acara pembukaan, panitia memastikan akan ada sekitar 700 orang yang memadati lokasi, termasuk undangan, simpatisan, serta komponen strategis seperti KAP Papua dan Soliditas Perempuan Papua.

Panitia juga mengundang para Ondoafi (Ondo) dari setiap kampung di wilayah Mamta-Tabi untuk hadir memberikan legitimasinya. Momen ini membawa spirit utama: "Bangkit Bersatu untuk Menyelamatkan Manusia, Tanah, dan  Sumber Daya Alam ".

Menutup keterangannya, Yulianus Dwaa memberikan pesan mendalam bagi generasi muda Tabi sebagai next generation. Ia menekankan pentingnya pemuda adat untuk tidak melupakan identitas dan tanah kelahirannya.

"Sejauh apa pun Anda pergi, jasadmu akan pulang dan ditanam di kampung halaman. Jangan pernah lupakan kampung dan peradaban yang membesarkan kita. Secara adat, jika para Ondo di para-para (tempat musyawarah adat) memberikan panah, panah itu diserahkan kepada anak muda untuk berburu. Artinya, keputusan-keputusan yang diturunkan oleh orang tua, pemudalah yang wajib mengeksekusinya di lapangan. Bentuk konkretnya adalah pemuda harus bergerak menjaga hak-hak adat, menjaga sumber air, hutan, dan kekayaan alam yang tersisa demi masa depan," pungkas Yulianus. (Jahya Lourentz)

Tertarik Bermitra dengan PPMA Papua?

Kami terbuka untuk kolaborasi dengan lembaga, pemerintah, dan sektor swasta yang memiliki komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat adat Papua.