Blog
Enam Pemimpin Adat Dunia Termasuk dari Indonesia Resmi Dinobatkan Jadi Duta Besar Hutan Primer Oleh PBB
30 Oct 2026 · Penulis PPMA
Dari Yerevan, Armenia, di sela-sela Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (CBD COP17), enam sosok penjaga bumi berdiri membawa cerita tentang akar, tanah, dan ketangguhan. Pada 26 Oktober lalu, mereka resmi diakui sebagai Duta Besar Masyarakat Adat untuk Hutan Primer perdana di dunia.
Inisiatif bersejarah ini digagas oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), Sekretariat Forum PBB tentang Hutan, serta Fasilitas Lingkungan Global. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam mengapresiasi kerja-kerja konservasi berbasis komunitas yang selama ini kerap berjalan tanpa sorotan.
Dari total enam tokoh terpilih dari berbagai belahan dunia, salah satu nama yang mengharumkan nama bangsa adalah Herkulanus Sutomo Manna, perwakilan dari Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik, Kalimantan Barat, Indonesia. Bersama lima tokoh lainnya—Maimuna Jawara (Gambia), Puyr dos Santos Tembé (Brasil), Pirawan Wongnithisathaporn (Thailand), Joseph Itongwa Miukumo (Republik Demokratik Kongo), dan Julio Cusurichi Palacios (Peru)—mereka menjadi simbol harapan bagi kelestarian paru-paru dunia.
Bagi Sutomo Manna dan para penerima penghargaan lainnya, hutan bukan sekadar bentang alam, melainkan rumah sekaligus identitas yang dihidupkan melalui tradisi turun-temurun. Di Sungai Utik, Sutomo bersama komunitasnya konsisten mengelola dan melindungi hutan adat melalui sistem zonasi ketat, aturan adat yang mengikat, hingga patroli rutin. Praktik ini memastikan aktivitas seperti berburu dan pemanfaatan hasil hutan tetap selaras dengan upaya menjaga kelestarian alam dan mata pencaharian tradisional.
Dedikasi serupa juga ditunjukkan oleh para duta besar lainnya. Di Brasil, Puyr dos Santos Tembé memimpin restorasi hutan Amazon menggunakan spesies asli. Di Peru, Julio Cusurichi Palacios berjuang lewat advokasi hukum demi melindungi kelompok masyarakat yang hidup terisolasi. Sementara itu, Joseph Itongwa Miukumo di Kongo, Pirawan Wongnithisathaporn di Thailand, dan Maimuna Jawara di Gambia masing-masing mendedikasikan diri untuk memperjuangkan hak ulayat, kehutanan komunitas, hingga mendokumentasikan pengetahuan tradisional tentang tanaman obat dan hutan keramat.
Pengakuan internasional ini datang di saat yang krusial. Hutan primer dunia saat ini masih menghadapi ancaman nyata akibat laju deforestasi, ekspansi pertanian, hingga ekstraksi sumber daya alam. Padahal, ekosistem kompleks ini memegang peran vital sebagai penyerap karbon raksasa dan penyedia cadangan air bersih yang sulit untuk dipulihkan jika telanjur hancur.
Meski masyarakat adat telah terbukti ampuh menjaga lanskap hutan melalui kearifan lokal, persoalan kepastian hak atas tanah dan pelibatan dalam kebijakan pemerintah global masih menjadi tantangan besar.
Melalui ajang di Yerevan ini, keenam Duta Besar Hutan Primer tidak hanya menerima penghargaan, tetapi juga lantang menyuarakan tantangan di lapangan serta mendesak dukungan nyata dari pemerintah, donor, dan lembaga internasional. Langkah awal telah ditorehkan; kini dunia menanti apakah pengakuan ini mampu menerjemahkan perlindungan nyata bagi hak-hak masyarakat adat di masa depan.