Blog
"Darah Muda Tabi Bergolak Stop Rampas Hak Kami saatnya Revolusi Kultural Lawan Tirani Jakarta"!
26 Oct 2026 · Penulis PPMA
Pemuda adat Papua tidak akan lagi diam menonton tanah leluhur mereka dijarah dan hak-hak dasar mereka diinjak-injak oleh keserakahan kekuasaan. Mengawal hasil bersejarah Konferensi III Dewan Adat dan Konferensi I Pemuda Adat Tabi yang digelar di Suni Hotel Sentani pada 7-9 Oktober 2026 lalu, Ketua Pemuda Adat Mamta-Tabi, Yulianus Dwaa, SKM, menabur semangat perlawanan total demi menyelamatkan eksistensi manusia, tanah, dan sumber alam yang tersisa di wilayah Mamberamo Tami (Mamta) Tabi.
Melalui konsolidasi radikal yang melahirkan 26 rekomendasi strategis serta Tujuh Maklumat Adat, kaum muda Tabi kini berdiri sebagai benteng pertahanan terakhir. Mereka siap membawa semangat pergerakan ini menuju Konferensi Adat Papua Ke-5 di Manokwari Selatan (Mansel) untuk menegaskan satu hal: kedaulatan kultural Papua tidak bisa ditawar lagi!
Deklarasi "Tujuh Maklumat Adat": Hukum Tertinggi di Tanah Tabi!
Yulianus Dwaa menegaskan bahwa pemuda adat tidak akan mentoleransi lagi dualisme atau pelemahan institusi adat. Melalui ketetapan Komisi A, B, dan C, struktur organisasi Mamta Tabi kini diperkuat guna menghadapi kepungan modal asing dan kebijakan Jakarta.
"Tujuh Maklumat Adat telah diterbitkan! Ini menyangkut hak atas tanah, perlindungan manusia, tata kelola sumber daya alam, kehidupan beragama, hingga posisi kami di dunia internasional," tegas Yulianus Dwaa dengan nada membakar semangat. Siapa pun—baik investor, pendatang, maupun penguasa—yang hidup dan meraup kekayaan di atas tanah Mamta Tabi, wajib tunduk tanpa syarat pada maklumat hukum adat ini!
Rebut Kembali Hak Otsus: Tuntut 10% Anggaran Lembaga Adat dan Kenaikan 6% DAU!
Pemuda Adat Tabi mengutuk keras pengelolaan dana Otonomi Khusus (Otsus) yang selama ini dinilai hanya menguap di meja kementerian dan menjadi ajang korupsi proyek fisik. Yulianus Dwaa menuntut perombakan radikal anggaran nasional:
- Alokasi Mutlak 10% untuk Institusi Adat: Dana Otsus wajib diserahkan sebesar 10 persen langsung kepada kelembagaan adat secara berjenjang hingga ke suku-suku di kampung, bukan habis dikelola birokrat korup!
- Desak Kenaikan Otsus Jadi 6% DAU Nasional: Mendeklarasikan tuntutan kepada pemerintah pusat untuk mendongkrak dana Otsus menjadi 6 persen dari Dana Alokasi Umum (DAU) Nasional demi membiayai langsung pendidikan dan masa depan anak-anak asli Papua.
"Otsus Lahir dari Darah Perjuangan DAP, Bukan Pemberian Jakarta!"
Menyapu bersih intervensi politik praktis, Yulianus Dwaa mengingatkan DPR Provinsi Papua dan pihak eksekutif bahwa Otsus Papua maupun Kabupaten Kota lahir dari rahim perjuangan Dewan Adat Papua (DAP). Pemuda Tabi menuntut segera diterbitkannya Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) yang menetapkan bahwa hak tunggal dan legal untuk merekomendasikan keterwakilan kursi pengangkatan di MRP maupun DPRP/DPRK berada di bawah kendali mutlak Dewan Adat Papua dan Dewan Adat Wilayah Mamta Tabi. Keterwakilan adat tidak boleh lagi disusupi oleh kaki tangan partai politik ataupun intervensi pihak lain untuk melemahkan posisi masyarakat adat untuk eksis dalam negara!
Lawan Kriminalisasi Anak Adat dan Tantangan Spiritual kepada Presiden Prabowo
Menolak perlakuan diskriminatif hukum yang kerap menyasar anak-anak asli Papua. Yulianus Dwaa melayangkan peringatan keras kepada aparat penegak hukum untuk segera menghentikan kriminalisasi sepihak. Pemuda Tabi menolak keras penangkapan dan pengurungan anak-anak adat atas tuduhan manipulatif penyalahgunaan anggaran, terutama ketika mereka tidak mempergunakannya untuk kepentingan pribadi.
Sebagai simbol perlindungan spiritual dan penegasan bahwa Papua adalah tanah religius yang diberkati, Pemuda Adat bersama Dewan Adat berharap Presiden Prabowo Subianto untuk membangun patung Tuhan Yesus setinggi 200 meter di Tanah Tabi.
Yulianus mengingatkan pemerintah daerah dan pusat untuk tidak berjalan sendiri layaknya penguasa arogan. Tiga pilar—Adat, Agama, dan Pemerintah—harus berdiri setara. Pemerintah wajib tunduk dan menghormati tatanan adat Tabi yang sudah lahir ribuan tahun sebelum struktur negara Indonesia menginjakkan kaki di tanah ini. Bagi warga dari wilayah adat lain yang kini mencari penghidupan di Mamta Tabi, pemuda adat mengimbau dengan tegas agar menjaga keharmonisan dengan menghormati hukum adat setempat. Tanah Tabi memiliki tuan, dan pemuda adat siap mempertahankannya untuk eksistensi generasinya! (Jahya Lourentz)