Blog
Perempuan Unurumguay Jadi Garda Tertedapan Penjaga Tanah Leluhur
07 Sep 2025 · Penulis PPMA
Di sebuah aula sekolah di Unurum Guay, di bawah langit Papua yang luas, suara-suara perempuan menggema. Mereka berkumpul bukan sekadar untuk berbincang, melainkan untuk menetapkan arah baru bagi kampung mereka. Forum Aksi Iklim Perempuan Unurumguay lahir dari ruang diskusi tematik, sebuah titik awal bagi perjuangan panjang dalam melawan dampak perubahan iklim dan menjaga hak-hak tanah adat.
Investasi yang ambisius akan sumber daya alam telah lama menjarah tanah Papua. Hutan-hutan yang dahulu menjadi sumber kehidupan, perlahan lenyap, meninggalkan tanah yang gersang dan kehidupan yang terguncang. Masyarakat adat, yang selama ini menggantungkan hidup pada hutan untuk makanan, obat-obatan, dan bahan kerajinan, semakin tersisih. Tanah yang dahulu menjadi tempat berburu dan bercocok tanam, kini menjadi medan konflik antara kepentingan Masyarakat adat dan kepentingan ekonomi para pemodal.
Di tengah tekanan ini, program Voices for just Climate Action (VCA) hadir untuk memberikan ruang bagi suara masyarakat adat, perempuan, dan pemuda. Di Kabupaten Jayapura, Unurum Guay menjadi salah satu titik perlawanan.
Pada 30 September 2024, ruang belajar di SMP Negeri Unurum Guay berubah menjadi medan diskusi. Hadir para champion—tokoh-tokoh masyarakat yang selama ini berjuang di garis depan.
Bapak Bernard Goakan, Ketua LMA Kampung Beneik, berbicara lantang tentang pentingnya pemetaan wilayah adat. “Tanpa peta wilayah, kita akan dianggap tak punya hak. Pemerintah bisa bilang ini tanah negara. Padahal, ini tanah leluhur kita!” serunya. Kata-kata itu menggema, menembus dinding aula dan mengakar di hati para peserta.
Ibu Novi dari komunitas Ingerwewal menyoroti pentingnya ketahanan pangan. “Di kampung- kampung kita, tanah ini masih subur. Lalu kenapa masih ada gizi buruk?” tanyanya retoris. Ia berbagi pengalaman bagaimana perempuan di Sawesuma mulai menanam kembali sagu dan sayur-sayuran sebagai bentuk ketahanan pangan keluarga.
Dari sudut pemuda, Jefri Yaroseray membawa suara generasinya. “Hutan kita rusak bukan karena orang luar saja. Kadang kita sendiri yang mengundang mereka masuk. Kalau kita tak sadar sekarang, 10 tahun lagi anak cucu kita tak akan merasakan kesejukan hutan ini.”
Diskusi terus berlanjut. Setiap kata, setiap kalimat, mengukir sebuah keputusan besar. Mereka sepakat: harus ada wadah yang mengakomodasi suara perempuan, suara masyarakat adat, suara yang selama ini terpinggirkan.
Lahirnya Forum Aksi Iklim Perempuan Unurum Guay Kesepakatan pun dicapai. Forum Aksi Iklim Perempuan Unurum Guay berdiri sebagai wadah koordinasi. Dengan kepemimpinan yang jelas, forum ini akan mengoordinasikan aksi di enam kampung: Beneik, Sentosa, Garusa, Sawesuma, Guriat, dan Nandalsi.
Koordinator distrik dipegang oleh Ibu Yelin Aburyaan. Bersamanya, para koordinator kampung Bersiap menjalankan program kerja yang telah disepakati. Prioritas mereka jelas: meningkatkan ketahanan pangan, memperkuat produk olahan lokal, mengembangkan keterampilan perempuan dan remaja, serta mendorong integrasi program ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung.
Diskusi itu bukan akhir, melainkan awal dari gerakan yang lebih besar. Kini, perjuangan bergeser ke aksi nyata. Pemetaan wilayah adat akan terus digalakkan, kampung-kampung akan diberdayakan, dan suara perempuan akan semakin didengar.
Di bawah langit Unurum Guay, harapan tumbuh. Perempuan-perempuan itu tak lagi diam. Mereka kini menjadi penjaga tanah, suara perubahan, dan garda terdepan dalam menjaga masa depan generasinya.* (Sumber: Buletin Kontak Kawan Edisi 34 Tahun 2025)