Blog
Cari
Kisah Komoditas Gaharu di Kampung Imsar
05 Jun 2026 · Penulis PPMA
Laporan, Jahya Lourentz
Di Kampung Imsar, perjalanan pengembangan gaharu bukanlah cerita yang lahir dalam semalam. Di balik pohon-pohon gaharu yang kini tumbuh tinggi di kebun masyarakat, tersimpan kisah panjang tentang kerja keras, kesabaran, dan semangat gotong royong yang telah dirintis sejak hampir satu dekade lalu.
Saat program dimulai pada tahun 2017, kondisi masih sangat sederhana. Persemaian dilakukan secara manual dengan fasilitas yang terbatas. Namun keterbatasan itu tidak menyurutkan tekad masyarakat untuk membangun masa depan melalui komoditas gaharu yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
"Kami memulai secara sederhana. Semua dilakukan secara manual. Kemudian kami mendapat bantuan dari PPMA Papua yang membantu menyediakan peralatan untuk persemaian, termasuk material dan kayu untuk pembangunan sarana pendukung. Kami sendiri menyiapkan bibitnya," kenang Silas Giay, salah satu tokoh yang terlibat sejak awal program.
Pada saat itu, ia masih menjabat sebagai Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Kampung. Bersama masyarakat, mereka mulai mengumpulkan dan menyiapkan bibit gaharu untuk dibesarkan di persemaian. Setelah melalui proses pemeliharaan selama sekitar satu tahun, bibit-bibit tersebut mulai dibagikan kepada warga untuk ditanam di lahan masing-masing.
Bibit yang telah siap tanam kemudian didistribusikan ke berbagai kelompok masyarakat. Setelah pembagian dilakukan, warga didorong untuk menanam dan merawat pohon-pohon tersebut sebagai investasi jangka panjang.
Perjalanan itu terus berlanjut dari tahun ke tahun. Kini, pohon-pohon gaharu generasi pertama yang ditanam pada periode 2017 hingga 2018 telah berusia sekitar sembilan tahun. Pohon-pohon tersebut tumbuh subur dan sebagian telah mencapai ukuran yang siap memasuki tahapan produksi gaharu.
Jika dulu masyarakat kesulitan memperoleh bibit, keadaan sekarang justru berbalik. Pohon-pohon yang telah dewasa mulai menghasilkan biji dan bibit baru dalam jumlah yang melimpah.
"Dulu kami masih mencari bibit dari luar. Kami bahkan harus mengambil bibit dari saudara yang memiliki pohon gaharu dan membayarnya terlebih dahulu. Setelah itu baru kami kumpulkan dan semai. Sekarang kami sudah tidak memikirkan bibit lagi karena jumlahnya sangat banyak dan berasal dari pohon yang kami tanam sendiri," ujar Silas Giay yang juga Ketua Kelompok Tani Kampung Imsar.
Keberhasilan itu tidak datang begitu saja. Selama beberapa tahun terakhir, pembagian bibit kepada masyarakat dilakukan secara bertahap. Tercatat, sedikitnya tiga kali pembagian bibit telah dilakukan kepada warga Kampung Imsar.
Dari program tersebut, sekitar 7.000 bibit gaharu telah didistribusikan kepada masyarakat. Namun jumlah pohon yang tumbuh saat ini diperkirakan jauh lebih banyak. Sebab, sebagian pohon yang telah dewasa kini sudah mampu menghasilkan bibit baru yang kembali ditanam oleh masyarakat secara mandiri.
"Kurang lebih sudah 7.000 bibit yang kami bagikan. Tetapi jumlah pohon yang ada sekarang tentu lebih banyak karena masyarakat juga sudah memproduksi bibit sendiri dan menanam kembali di kebun mereka," kata Silas.
Meski demikian, pendataan terbaru masih akan dilakukan untuk mengetahui jumlah pasti pohon yang tumbuh dan tingkat keberhasilan penanaman. Pemerintah kampung bersama pendamping program berencana melakukan penghitungan kembali sebagai dasar untuk pengembangan program selanjutnya.
Bagi masyarakat Imsar, pohon-pohon gaharu yang kini tumbuh di berbagai kebun bukan sekadar tanaman. Pohon-pohon itu adalah simbol keberhasilan sebuah proses panjang yang dimulai dari persemaian sederhana, kerja bersama masyarakat, dan keyakinan bahwa perubahan dapat tumbuh perlahan, seperti halnya gaharu yang membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum memberikan hasil terbaiknya.
Di tengah tantangan pembangunan kampung, ribuan pohon gaharu yang kini menghijau menjadi bukti bahwa ketika masyarakat diberi kesempatan, pendampingan, dan kepercayaan, mereka mampu membangun masa depan dengan tangan mereka sendiri.