Blog
Cari
Ketua SELAM Papua Dorong Pendidikan Kritis bagi Perempuan Sikapi Tragedi Siswi yang Tewas Dibakar Ibunya di Kampung Harapan Sentani
19 Jun 2026 · Penulis PPMA
SENTANI, JAYAPURA – Kasus tragis yang menimpa almarhumah Diana Puhiri, seorang siswi yang baru saja menyelesaikan Pendidikan kelas IX di salah satu sekolah di Sentani, Kabupaten Jayapura, memicu keprihatinan mendalam dari berbagai elemen masyarakat. Korban menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Dian Harapan setelah berjuang melawan luka bakar serius akibat diduga dibakar oleh ibunya sendiri di Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur.
Menanggapi polemik yang tengah viral ini, Ketua Sekolah Alam (SELAM) Papua, Abina Beno, angkat bicara. Pihaknya menyayangkan aksi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ekstrem tersebut dan mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini guna memberikan efek jera.
Desak Pengusutan Hukum Demi Efek Jera
Abina Beno menegaskan bahwa meskipun berbagai gerakan sipil saat ini tengah gencar memperjuangkan hak-hak perempuan di Tanah Papua, tindakan kriminal yang menghilangkan nyawa orang lain sama sekali tidak dapat ditoleransi.
"Menurut saya, kasus pembakaran yang menyebabkan anak ini kehilangan nyawa harus diusut dengan baik dan diselesaikan oleh pihak yang berwajib. Ini penting supaya menjadi efek jera bagi perempuan-perempuan yang lain," ujar Abina Beno saat memberikan keterangan usai gelar FGD di kantor PPMA Papua, jalan Buper Waena, 19 Juni 2026.
Abina menilai tindakan kekerasan ekstrem yang terjadi di Kampung Harapan tersebut merupakan perbuatan yang tidak beretika dan tidak bermoral. Ia mengingatkan kembali esensi spiritualitas dalam keluarga bahwa anak merupakan titipan berharga dari Tuhan yang wajib dijaga dengan penuh kasih sayang.
"Menghilangkan nyawa orang berarti anda akan bertanggung jawab dengan Tuhan. Anak itu titipan Tuhan yang harus dijaga. Seburuk apa pun anak kita, kita sebagai orang tua harus menjaganya dengan baik," tegasnya.
Akar Masalah: Tekanan Mental dan Budaya Patriarki
Melihat fenomena ini dari sudut pandang psikososial, SELAM Papua menilai tindakan gelap mata sang ibu tidak serta merta muncul tanpa sebab. Abina menduga ada tekanan mental berlapis yang dialami oleh pelaku, yang kerap berakar dari kungkungan budaya patriarki yang masih sangat kuat di lingkungan adat.
"Banyak faktor sebenarnya. Budaya patriarki yang sangat kuat sering menjadi salah satu penyebab utama perempuan kehilangan ruang di sini. Akibatnya, perempuan sering ditekan oleh keluarga maupun suami," ungkap Abina.
Menurutnya, tekanan psikologis yang menumpuk tanpa adanya ruang resolusi yang sehat membuat sebagian perempuan melimpahkan frustrasinya kepada anak-anak. Ironisnya, tindakan ini justru merusak citra luhur perempuan Papua yang secara adat dihormati sebagai simbol pelindung generasi.
"Perempuan itu tahu bahwa dia adalah sumber kehidupan. Perempuan itu adalah noken, dia yang mengeluarkan, melahirkan, membesarkan anak, dan dia yang paling tahu arti penderitaan itu. Tetapi justru di kasus kemarin, ibu yang melakukan tindakan kekerasan fatal itu kepada anaknya sendiri," sesalnya.
Solusi SELAM Papua: Urgensi Pendidikan Kritis dan Literasi
Menyikapi rusaknya kesehatan mental di tingkat keluarga, SELAM Papua menawarkan jalan keluar melalui dua program besar yang sedang mereka jalankan, yaitu pemulihan rasa percaya diri lewat program literasi baca-tulis serta pendidikan kritis.
Abina Beno menekankan bahwa terduga pelaku saat ini membutuhkan pendekatan persuasif yang mendalam untuk memperbaiki kondisi mentalnya yang terguncang. Melalui instrumen pendidikan kritis, kelompok perempuan diajarkan untuk kembali mengenali jati diri mereka yang hilang akibat tekanan struktural dan sosial.
"Pendidikan kritis ini sangat penting agar perempuan bisa berpikir secara jernih dan logis. Orang yang mampu berpikir kritis akan sadar penuh dan tahu persis konsekuensi hukum maupun moral yang akan dihadapi sebelum mengambil tindakan," jelas Abina.
Melalui pendekatan edukasi alternatif ini, SELAM Papua berharap kaum perempuan di Papua tidak lagi terjebak dalam aksi impulsif atau "gelap mata" saat menghadapi konflik keluarga, sehingga tragedi memilukan seperti yang dialami mendiang Diana Puhiri tidak kembali terulang di masa depan. (Jahya Lourentz)