Beranda › Blog

Blog

Berita & Informasi

SELAM Papua Siap Beraksi Untuk Perempuan Papua dan Anak Buta Aksara

22 Jun 2026 · Penulis PPMA

SELAM Papua Siap Beraksi Untuk Perempuan Papua dan Anak Buta Aksara

JAYAPURA, 20 Juni 2026 – Perkumpulan Sekolah Alam (SELAM) Papua gelar Focus Group Discussion (FGD) selama dua hari berturut-turut 19 -20 Juni di Kantor PPMA Papua, Jalan Buper Waena Kota Jayapura. Forum ini diselenggarakan untuk membedah dan memfinalisasi draf dokumen Rencana Strategis (Renstra) awal yang telah dirumuskan pada 6–7 Mei lalu.

Penyusunan dokumen jangka pendek ini melibatkan elemen internal dan eksternal. Mulai dari Board, Dewan Penasehat, Badan Pengurus, tim kerja, hingga lembaga pendamping strategis Perkumpulan untuk Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat Adat (PPMA) Papua.

Ketua SELAM Papua, Abina Beno, menjelaskan bahwa agenda intensif ini bertujuan untuk mengevaluasi sekaligus menjaring masukan kritis dari berbagai pihak guna mematangkan arah gerak organisasi.

"Hasil yang kami harapkan adalah adanya input terhadap dokumen, sekaligus memfinalisasikan dokumen Renstra tersebut. Dengan begitu, dokumen ini resmi menjadi pedoman kerja bagi SELAM Papua selama tiga tahun ke depan," ujar Ketua SELAM, Abina Beno selepas penutupan.

Di akhir pernyataannya, Abina menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak, khususnya jajaran Board, Penasehat, Pengurus, staf, dan tim PPMA Papua yang konsisten mengawal diskusi. Melalui komitmen bersama ini, SELAM Papua kini resmi mengantongi dokumen final yang siap menjadi kompas program kerja ke depan.

Dominggas Nari, anggota Board SELAM Papua, optimis gerakan ini mampu mengatasi tantangan dalam membela hak perempuan melalui pendekatan pelayanan dengan hati. Ia menyoroti bahwa tatanan adat saat ini mulai terbuka dan memberikan peluang bagi perempuan untuk berkembang dalam pembangunan.

Fokus SELAM Papua pada pemberantasan buta aksara dinilai sebagai langkah penting untuk membuka akses publik bagi kaum perempuan. Menurut Dominggas, kemampuan membaca dan menulis akan menumbuhkan rasa percaya diri, memberikan legalitas (seperti kemampuan tanda tangan), serta membuka akses finansial ke perbankan yang berdampak langsung pada penguatan ekonomi.

Meskipun tantangan internal seperti rasa malu dari warga belajar masih membayangi, rekam jejak tim SELAM Papua yang konsisten membentuk kelompok-kelompok belajar menjadi modal kuat untuk masa depan. Ke depan, SELAM Papua berkomitmen tidak hanya mengajarkan literasi dasar, tetapi juga memberikan berbagai program penguatan holistik untuk memajukan perempuan Papua.

Di waktu yang sama, Dimara salah satu anggota Board  SELAM Papua,  memberikan arahan mendalam mengenai situasi riil yang sedang dihadapi masyarakat asli Papua saat ini. Ia menekankan bahwa program-program yang dirancang harus lahir dari kesadaran kolektif terhadap kondisi ketidakberdayaan yang dialami Masyarakat khususnya Perempuan Papua.

"Harus ada kesadaran dalam diri kita semua, baik penasihat, pengurus, dan badan pelaksana, bahwa hari ini kita sedang berada dalam situasi di mana Orang Asli Papua (OAP) dalam kondisi tidak berdaya. Mereka tidak berdaya bukan karena bodoh atau tidak mampu, tetapi karena sistem di negara ini yang membuat situasi itu terjadi," tegas Dimara saat memberikan respons usai FGD.

Merespons refleksi spiritual yang disampaikan oleh Ibu Gembala pada ibadah pembukaan, Dimara mengingatkan seluruh tim kerja SELAM Papua mengenai pentingnya ketulusan dan totalitas dalam pelayanan sosial.

"Kalau kita punya kerinduan untuk menolong perempuan-perempuan Papua, secara khusus mereka yang buta aksara dan kelompok rentan seperti disabilitas, maka kita harus bekerja dengan hati. Artinya, apa yang kita lakukan ini betul-betul sebuah panggilan yang timbul dari hati, sehingga kita siap melayani mereka dengan penuh kasih untuk keluar dari masalah sooial yang dialami," lanjutnya.

Terkait target capaian, Dimara mengingatkan agar SELAM Papua tetap realistis namun berkomitmen penuh pada keberlanjutan program (sustainability). Pihaknya mendorong agar program literasi dan pemberdayaan ini difokuskan terlebih dahulu untuk menjangkau komunitas perempuan di tingkat kampung di Kabupaten Jayapura sebelum melakukan ekspansi ke wilayah lain.

Sebab, keberhasilan sebuah program tidak diukur dari seberapa luas wilayahnya, melainkan dari kepastian bahwa program yang dijalankan di satu kampung benar-benar tuntas, mandiri, dan tidak ditinggalkan begitu saja menjadi program yang mangkrak atau tanpa dampak jangka Panjang.

Penasehat Sekolah Alam (SELAM) Papua, Pendeta Ketty Yabansabra, menegaskan pentingnya dukungan sinergis antara adat, agama, dan pemerintah bagi perempuan penggerak pendidikan alternatif. Kehadiran sekolah alam dinilai penting untuk membebaskan kaum perempuan di komunitas suku di kampung-kampung dari belenggu buta aksara yang selama ini membatasi peran sosial dan spiritual mereka.

Menurut Pendeta Ketty, banyak mama-mama di kampung yang merasa minder, enggan terlibat dalam kegiatan gereja, bahkan menolak menjadi pengurus jemaat bahkan majelis karena tidak bisa membaca Alkitab akibat buta aksara. "Penghargaan tentang adat atau sekolah ini akan semakin dalam jika dikelola oleh perempuan yang sudah memulainya. Mereka tidak boleh dibiarkan sendirian agar kemuliaan Tuhan bisa bersinar," ujarnya mama Ketty.

Guna memastikan efektivitas gerakan ini ke depan, Pendeta Ketty memberikan dua nasihat taktis bagi pengelola:

Gunakan Pendekatan Kontekstual: Pendampingan wajib disesuaikan dengan konteks nyata dan alam pikiran mama-mama setempat, bukan memaksakan cara pandang luar.

Hayati Panggilan Spiritual: Penggerak harus menyadari peran mereka sebagai pribadi pilihan yang diutus Tuhan tepat pada waktunya untuk menjawab pergumulan Panjang kaum Perempuan di kampung-kampung di Tanah Papua.

Sementara itu, Sekretaris Board, Niko Wamafma, mengakui bahwa potret persoalan pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Tanah Papua sangatlah berat dan luas. Kehadiran SELAM Papua diproyeksikan sebagai instrumen taktis untuk mengisi kekosongan layanan pendidikan formal yang belum menyentuh kelompok-kelompok marginal.

"Kita sadar bahwa permasalahan untuk Tanah Papua ini sangat berat dan luas sekali. Namun, paling tidak SELAM ini akan menjadi alat atau 'lilin' yang mencoba menerangi kegelapan di bidang ini. Kita ingin menemukan model pembelajaran yang lebih praktis di tingkat komunitas," ujar Niko Wamafma.

Melalui model pembelajaran yang aplikatif, SELAM Papua berharap dapat mendorong peningkatan kualitas SDM perempuan dan anak-anak secara mandiri. Peningkatan kapasitas ini ditargetkan mampu memicu partisipasi yang lebih riil dalam kehidupan sehari-hari di kampung, mulai dari dalam rumah tangga, keterlibatan dalam perencanaan pembangunan tingkat kampung hingga penguatan ekonomi domestik.

Mendobrak Tembok Budaya Patriarki dan Perlindungan Hak Adat

Lebih lanjut, Niko mengupas tantangan struktural terbesar yang dihadapi kaum perempuan di Papua, yakni dominasi budaya patriarki dan sistem sosial patrilineal. Budaya ini kerap kali membatasi ruang gerak perempuan, sehingga mereka jarang dilibatkan dalam proses-proses strategis pengambilan keputusan di tingkat suku maupun komunitas.

Padahal, secara esensial, kaum perempuan adat merupakan pilar penting kehidupan komunitas yang menyimpan memori kolektif dan pengetahuan lokal yang kaya.

"Perempuan Papua adalah bagian penting dalam proses kehidupan di komunitas. Mereka banyak menyimpan pengetahuan terkait tanah, wilayah adat, hingga sejarah suku, namun jarang sekali dilibatkan. Melalui SELAM Papua, kita ingin mendobrak batasan ini agar posisi tawar dan partisipasi perempuan menjadi penting," tegas Niko.

Menurutnya, penguatan kapasitas perempuan secara langsung akan memperkuat benteng perlindungan terhadap tanah adat, tatanan budaya, dan hak-hak komunal suku-suku di Tanah Papua.

"Penghargaan luar biasa bagi pengurus SELAM Papua. Perempuan-perempuan hebat yang mau mengorbankan waktu di tengah kesibukan pribadinya untuk melayani sesama perempuan dan anak-anak. Gerakan penguatan pelayanan pendidikan ini akan memastikan perempuan Papua tampil lebih banyak, dengan tingkat partisipasi yang semakin tinggi di dalam rumah tangga, masyarakat, hingga proses pembangunan makro di atas Tanah Papua," pungkasnya.

Direktur PPMA Papua, Naomi Marasian menambahkan,  Seluruh tahapan persiapan operasional Sekolah Alam (SELAM) Papua resmi dinyatakan siap (ready) untuk berjalan secara efektif. Gerakan pendidikan alternatif ini akan fokus memperkuat kerja di tingkat komunitas, dengan prioritas utama memberdayakan perempuan adat, penyandang disabilitas, serta kelompok marginal di basis komunitas di Tanah Papua.

Langkah taktis ini mendapat jaminan penuh dari perkumpulan untuk Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat Adat (PPMA) Papua. Direktur PPMA Papua, menegaskan bahwa komitmen ini merupakan langkah bersama untuk menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) panjang dalam mengawal hak perempuan adat dan melindungi generasi Papua yang selama ini pengetahuannya kurang terurus secara maksimal.

Meskipun mandiri secara kelembagaan, SELAM Papua bersinergi secara programatik dengan PPMA Papua karena sama-sama berakar pada komunitas adat. "Proses persiapan ini sudah berjalan. Kita berharap SELAM bisa beroperasional efektif dalam memperkuat kerja di komunitas, khususnya kelompok perempuan," ujar Naomi usai FGD.

Kehadiran SELAM Papua ditargetkan untuk mengikis kesenjangan gender dan memperkuat posisi tawar masyarakat adat dalam melindungi hak tanah komunal. Perempuan dan kelompok disabilitas tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan aset berharga yang disiapkan menjadi agen perubahan demi melestarikan nilai kearifan lokal.

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pendampingan yang mencakup program pemberantasan buta aksara, pemberdayaan orang muda, serta penguatan ekonomi komunal bagi mama-mama Papua di tingkat komunitas, PPMA Papua memfasilitasi SELAM dengan menyediakan sekretariat di kantor PPMA, alat kerja, serta membuka jaringan ke organisasi gerakan di daerah, nasional serta mitra donor. (Jahya Lourentz)

Tertarik Bermitra dengan PPMA Papua?

Kami terbuka untuk kolaborasi dengan lembaga, pemerintah, dan sektor swasta yang memiliki komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat adat Papua.