Beranda › Blog

Blog

Berita & Informasi

Dari Buka Tutup Laptop Hingga Office Boy Kisah Perjalanan itu Berawal

06 Jun 2026 · Penulis PPMA

Dari Buka Tutup Laptop Hingga Office Boy Kisah Perjalanan itu Berawal

Langkah kaki di Padang Bulan pada tahun 1997 itu masih terekam jelas di ingatannya. Waktu itu, sebuah lembaga yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat adat Papua—yang kini dikenal sebagai PPMA—masih bernama YKPM. Di sanalah, perjalanan panjang seorang pria dimulai. Bukan sebagai konseptor, bukan sebagai ahli komputer, bukan pula sebagai sarjana muda, melainkan sebagai seorang office boy (OB).

Namun sejarah tidak pernah mencatat dari mana seseorang memulai, melainkan bagaimana ia memilih untuk bertumbuh.

"Buka dan Tutup Laptop": Sekolah Alamiah Seorang OB

Pada akhir tahun 90-an, teknologi komputer adalah barang mewah nan asing, terutama di Papua. Di saat rekan-rekan kerjanya harus menempuh kursus formal untuk bisa mengetik, pria ini tidak memiliki kemewahan yang sama. Modal utamanya hanyalah satu: rasa ingin tahu yang membakar dada, Dia adalah Habel Samon, sosok pria lembut yang menjadi asset hidup ditempat Ia bekerja.

Keberuntungan berpihak ketika para senior di lembaga, seperti almarhum Yoseb Baweng, Silvester Wogan dan Pak Zadrak Wamebu Ketua sekaligus pendiri Yayasan pejuang Masyarakat adat di era Orde Baru di akhir tahun 1980-an, mengulurkan tangan untuk mengajarinya. Pak Zadrak memberinya sebuah tugas yang terdengar sepele namun menjadi gerbang pembuka dunianya. 

"Setiap pagi sebelum saya pulang atau saat beliau datang, tugas saya adalah membuka laptop Compaq—merek yang saat itu harus dipesan langsung dari perusahaannya. Lalu saat pulang, saya menutupnya kembali," kenangnya sambil tersenyum mengenang masa-masa itu.

Ritual "buka-tutup" laptop Compaq itu memicu keberanian yang luar biasa. Ia bergumam dalam hati, "Saya harus tahu bagaimana cara menggunakan barang ini."

Ketakutan akan merusak barang mahal ia tepis dengan logika yang sederhana namun berani. "Kalau memang barang ini rusak, ini kan punya lembaga. Nanti kita bawa ke tempat servis, lalu kita pakai lagi." Keberanian memecah ketakutan itulah yang membuatnya melompat jauh. Tanpa kursus, ia tidak hanya mahir mengetik, tetapi lambat laun mampu mengajari staf lain, bahkan hingga hari ini ia mampu memprogram komputer melalui jaringan Wi-Fi nirkabel tanpa kabel.

Dedikasi dan kejujurannya berbuah manis ketika lembaga berpindah ke kawasan Buper. Direktur memberi kepercayaan besar kepadanya untuk menjabat sebagai Kepala Kantor. Sebuah tanggung jawab yang ia maknai sebagai anugerah yang harus dibayar tuntas dengan kedisiplinan tingkat tinggi.

Ketika Dicibir: "Kamu Bertanggung Jawab pada Siapa?"

Perjalanan merawat lembaga yang bermetamorfosis dari YKPM, LPPMA, hingga menjadi PPMA Papua ini penuh dengan dinamika ideologis. Ia mengenang masa-masa sulit ketika konsep "Lembaga Swadaya Masyarakat" belum dipahami oleh publik.

Suatu pagi, seorang pegawai negeri di lingkungan Wali Kota Jayapura, seorang perempuan Papua, menegurnya dengan kebingungan. "Saya bingung dengan lembaga kalian. Kamu kerja, tapi bertanggung jawabnya ke siapa? Kalau kami PNS jelas, ke Gubernur atau ke pusat di Jakarta. Tapi kamu kerja untuk siapa? Kerja apa?"

Pertanyaan itu sempat mengendap. Namun waktu adalah hakim yang paling adil. Bertahun-tahun kemudian, arah angin berubah. Apa yang dahulu diperjuangkan secara sunyi oleh lembaga—pemetaan wilayah adat dan hak tenurian—kini justru menjadi program yang diadopsi dan dikerjakan oleh pemerintah.

Pemerintah akhirnya paham dan sadar bahwa cetak biru (blueprint) pemberdayaan masyarakat adat di Tanah Papua bahkan Indonesia yang digagas oleh Lembaga Swadaya Masyarakat seperti PPMA adalah instrumen yang tepat untuk membangun peradaban baru yang Pancasilais. Sambil berkaca-kaca, ia menyadari satu hal: "Ternyata yang kami kerjakan sejak dulu itu benar. Kami bekerja langsung untuk menopang kehidupan masyarakat adat."

Rumah yang Menghidupi Keluarga

Bagi pria ini, PPMA bukan sekadar tempat bekerja, melainkan rahim yang menghidupi keluarganya. Menatap ke belakang sering kali membuatnya termenung gagap dilingkupi rasa haru yang mendalam.

Dari tetes keringatnya di lembaga ini, ia mampu membiayai sekolah anak-anaknya, memastikan ada makanan di meja makan, hingga mengantarkan mereka ke bangku kuliah. Meski dinamika kehidupan anak muda membuat beberapa anaknya tidak menyelesaikan kuliah dan selesai di tingkat SMA, ia tetap bersyukur anak perempuannya saat ini masih berjuang menyelesaikan studinya di perguruan tinggi.

Lembaga ini telah memberi hidup, dan sebagai gantinya, ia memberikan seluruh kesetiaannya.

Menatap Masa Depan Lembaga

Kini, di tengah momentum transisi kepemimpinan baru dan persiapan menghadapi Rapat Umum Anggota (RUA) untuk membahas perubahan akta serta nama lembaga, ia menaruh harapan besar.

Lembaga ini harus tetap tegak berdiri, sekokoh pohon-pohon di hutan adat Papua yang mereka lindungi. Dan baginya, perjalanan dari seorang pembersih kantor yang hanya berani membuka-tutup laptop, hingga menjadi Kepala Kantor yang menguasai teknologi digital, adalah bukti hidup: bahwa di dalam lembaga ini, manusia Papua tidak hanya bekerja untuk tanahnya, tetapi juga merdeka atas kapasitas dirinya sendiri.  (Jahya Lourentz)

Tertarik Bermitra dengan PPMA Papua?

Kami terbuka untuk kolaborasi dengan lembaga, pemerintah, dan sektor swasta yang memiliki komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat adat Papua.