Blog
Progres PPMA Papua di Kabupaten Mappi
· Penulis PPMA
Progres PPMA Papua di Kabupaten Mappi
Meskipun dihadapkan pada tantangan waktu dan dinamika sosial-politik yang terus terjadi di tahun 2020 - 2025, Secara keseluruhan, PPMA Papua berperan aktif mendukung masyarakat adat di Tanah Papua. di Kabupaten Mappi Papua Selatan misalnya, Perkumpulan Pemberdayaan Masyarakat Adat Papua mencurahkan perhatiannya bagi masyarakat adat yang hari-hari hidup di rawah bening. Komunitas Masyarakat Adat yang satu ini memang jauh dari keramaian, larut dalam kesunyian panjang dan tak terjamah publik adalah cerita dan rasa yang sulit terurai.
Pendekatan holistik yang mencakup pengembangan ekonomi, advokasi hak tanah, penguatan tata kelola Pemerintahan, dan kolaborasi multi-pihak itulah kerja-kerja yang dilakukan PPMA Papua bagi masyarakat adat di rawah bening Kabupaten Mappi Papua Selatan.
Berikut apa saja yang dikerjakan PPMA Papua bagi Masyarakat Adat di Mappi, Direktur Perkumpulan untuk Pengajian Pemberdayaan Masyarakat Adat (PPMA) Papua, Naomi Marasian,SE menyampaikan progres di Mappi dan perkembangan organisasi dari tahun 2020 hingga 2025 saat bincang-bincang di ruang kerjanya awal Februari 2026, pembaruan ini disampaikan juga sebagai laporan progres lima tahunan masa kepemimpinan.
Mandat dan Perubahan Visi-Misi Organisasi:
Direktur PPMA Papua, Naomi Marasian, SE menggambarkan, Perkumpulan untuk Pemberdayaan Masyarakat Adat Papua secara keseluruhan tidak ada perubahan visi dan misi sejak beberapa periode lalu, namun pada perencanaan strategis April 2020 ada Penambahan program Rekonsiliasi pada Bidang Penguatan Masyarakat Adat, program ini secara khusus melakukan tugas-tugas rekonsiliasi atau penyelesaian konflik tenurial terhadap hak-hak masyarakat adat dalam tiap suku dan penambahan program Penguatan Institusi Sumber Daya Organisasi yang secara khusus melakukan proteksi internal terhadap kesejahteraan staf dan kemandirian organisasi. PPMA Papua tahun 2020 hingga 2025 memiliki lima bidang program diantaranya, Program yang mengurus Masyarakat Adat, Kajian Pendidikan Publik, Penguatan Ekonomi Masyarakat Adat, Penguatan Perempuan Adat, Rekonsiliasi Konflik Tenurial dan satu program Penguatan Institusi adalah Penguatan Sumberdaya Daya Organisasi.
Tantangan dan Dampak COVID-19:
Namun demikian, Naomi mengakui PPMA Papua juga mengalami tantangan akibat dampak Pandemi COVID-19 yang secara nasional dan global menghentikan ruang gerak berbagai aktivitas dan menyebabkan terhentinya kerja-kerja dilapangan, terjadi kevakuman pada beberapa program dan mengalami pergeseran, dampak ini menyebabkan Rapat Umum Perkumpulan untuk Pemberdayaan Masyarakat Adat yang dijadwalkan dilaksanakan pada tahun 2025, dimundurkan di tahun 2026.
Progres Pelaksanaan Program
Focus Kabupaten Mappi, dalam narasi yang dikutip, Naomi juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap masalah pandemic covid-19 yang tak pasti kapan berakhir, namun pandemi tak bisa membendung niatnya untuk terus bergerak bagi masyarakat adat di Mappi, menurut Wanita asal Lemah Grime Jayapura ini, PPMA harus terus melangkah untuk lakukan giat penguatan terhadap masyarakat adat di wilayah-wilayah pemekaran kabupaten baru di Tanah Papua, seperti mambangun komunikasi, melakukan pemetan wilayah adat serta mendesain dan mengadakan berbagai pelatihan termasuk penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung (RPJMK) di beberapa suku yang tidak jauh dari pusat pemerintahan dan berdampak langsung di awal tahun 2018-2020, mendorong pelatihan ekonomi kreatif bagi mama-mama untuk menopang ketahanan pangan keluarga di tahun 2023 melalui pelatihan pengolahan hasil perikanan (abon, pentolan) dan produk sagu (kue, cheese stick) berdasarkan potensi lokal, menghubungkan kelompok binaan dengan dinas perindustrian untuk pendampingan lebih lanjut.
Loncatan Strategi di tahun 2021-2023, pola penguatan pada satu suku bergeser ke pendekatan berbasis kampung yang kemudian diperkuat menjadi pendekatan wilayah adat untuk 8 suku besar di Kabupaten Mappi. Menurut Naomi, alasan langkah pergeseran pola pendekatan yang dilakukan adalah bagian dari sikap respon terhadap situasi desaknya instruksi Pemekaran wilayah selatan Papua dari Provinsi Papua untuk jadi Provinsi Definitif oleh Pemerintah Pusat yang kemudian disertakan kebijakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dilancarkan secara massif, tersistem dan berdampak pada eksistensi masyarakat adat.
Terdorong dari perubahan tersebut, Naomi berinisiatif bahwa PPMA Papua akan membantu masyarakat adat untuk mempersiapkan dan mendokumentasikan hal-hal yang bisa dilakukan dalam kurung waktu yang singkat, diantaranya profil masyarakat adat, melakukan pemetaan indikatif, dan mempersiapkan dokumen (naskah akademik, draf perda) untuk mendorong kebijakan pengakuan dan perlindungan masyarakat adat di Kabupaten Mappi hingga tahun 2023 dengan pelatihan pengembangan ekonomi masyarakat adat.
Pengembangan Ekonomi Masyarakat Adat, dimulai di sekitar 9 kampung di Kabupaten Mappi bertujuan dapat berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara kebijakan pemerintah daerah dan masyarakat adat agar kehadiran Kabupaten definitif seperti Kabupaten Mappi dan dan Provinsi Papua Selatan tidak menghadirkan juga kesenjangan pada masyarakat adat tetapi dapat mengatasinya secara baik.
Dalam kerja-kerja kolaborasi, mantan Manajer Keuangan di PPMA ini menggambarkan, kehadiran PPMA di Kabupaten Mappi Papua Selatan menjadi strategis dan urgen dalam mendorong tata kelolah pemerintahan yang baik, fleksibel dan responsif terhadap situasi yang dialami masyarakat adat, dalam kepercayaan itu, PPMA membantu menjembatani Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam meningkatkan layanan dan dukungan, menghubungkan kerja-kerja kolaboratif dalam memperkuat ketahanan pangan dan perlindungan masyarakat adat di daerah rawa yang sensitif juga rentan banjir saat hujan dan kebakaran saat kemarau panjang, hingga 2024, PPMA terus memberikan asistensi untuk kebijakan Peraturan Daerah (PERDA) mengenai penguatan pemberdayaan masyarakat adat, PPMA jua berkolaborasi dengan Lembaga Masyarakat Adat (LMA), Dewan Adat Suku, kelompok Perempuan, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kampung, dan sebagian kecil pemuda.
PPMA membangun pengetahuan bersama masyarakat, edukasi, penguatan kebijakan internal kampung melalui penyusunan Peraturan Kampung, mendokumentasikan cerita tradisi masyarakat tentang hubungan emosional mereka dengan wilayah rawa sebagai ruang kehidupan, serta membuat film-film edukasi tentang kondisi usia anak sekolah dan mama-mama suku Yaqhai di Mappi dalam keseharian mencari untuk eksistensi keluarga juga pendidikan anak.